Danyang Penunggu Pohon dan Tiang

Pohon keramat

 

Dulu, melewati pohon di tempat sepi selalu merayapkan jeri di tangan, kuduk, dan kepalaku. Semacam desiran halus menjalari pelan dari lengan ke bagian atas tubuhku melewati tengkuk yang entah kenapa seperti berbintil. Ketegangan merambat. Bulu halus jegang sesaat. Tetapi, tiap menjelang pemilihan raja jin, panglima-panglima, menteri-menteri, serta para pemangku dedemit dan prayangan, desiran itu pergi. Meski para hantu kini lebih rajin menunggu pohon, mereka lebih suka menungguinya di keramaian tempat para hantu lalu lalang. Tak hanya pohon, para lelembut juga menyukai tiang listrik dan perempatan. Jawadwipa menjadi kesukaan mereka karena meski pohonnya makin sedikit, yang hilir mudik tetaplah yang paling banyak. Lelembut luar Jawa seperti bunian, palasik, gugua, dompe, longga, hingga suanggi menjejali pohon dan tiang listrik, berebut menjadi danyang bersaing dengan leak, genderuwo, banaspati, dan wewe gombel. Sebagian berpindah dari habitatnya di danau, rimba, kakus, atau pelimbahan. Seringai mereka ubah jadi senyum akrab setulus-tulusnya.  Wewangian dan angin surga mereka hembuskan, meski lidah api mereka terbiasa mewiridkan mantra pencabut nyawa. Mereka berdandan habis, memoles wibawa, memulas pideksa, agar tulah mereka rontok dan berganti tuah. Sebagian menyewa para perias dari rumah pemulasaraan jenazah lelembut kaya, lainnya menyewa ahli pemancar aura dari padepokan-padepokan jin ternama. Mereka rela membayar mahal dari sesajen mewah sampai jiwa wangsa manusia pengabdinya. Berharap hajatan ajek ini mengubah nasib menjadi ratu atau datu—meski hanya dalam lima warsa, mereka rela menukar ribuan tahun pengabdian pada Sang Hyang Penguasa dan untuk kali kedua mendurhakai-Nya. Entah di neraka mana mereka akan menghabiskan siksaan nirkala.  Membayangkan itu, tiba-tiba aku bergidik. Rasa jeriku berubah jadi kengerian tak terkira.

Categories: Fiksi | Leave a comment

isak dalam tajwid

Arimbi tahu, orang masih sibuk dengan cara bacanya. Dia belajar tajwid, ilmu menyempurnakan bacaan kitab suci. Tujuh model bacaan ia pelajari. Beragam langgam terkaji. Talaqqi kata mereka, membuatnya jadi muslimah nan kafah. Tapi hanya caci ia dapati saat mempertanyakan kata “wali” di keriuhan politik negeri. Mempelajari tafsir, membuatnya dirisak kafir. Tajwid bacaan, belum tajwid amalan. Arimbi terisak.

#fiksimini #minicuento #flashfiction

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Kuldesak Radikalisme

Opini Kuldesak Radikalisme MP 21 Juni 2018

Rilisan Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol. Hamli, bahwa tujuh kampus PTN terpapar radikalisme (25/5) menuai kehebohan. Menurut BNPT, ketujuh kampus: UI, ITB, IPB, Undip, ITS, Unair, dan UB, bahkan hampir semua PTN dan PTS, terutama fakultas eksakta di Jawa, telah tersusupi radikalisme. Tak lama setelah itu (2/6), Densus 88 menangkap tiga alumni Unri yang diduga merakit bom di Pekanbaru. Meski telah dipertegas bahwa temuan itu hasil riset, termasuk dari lembaga lain seperti Alvara dan BIN, serta didukung dengan pernyataan Menristek Dikti, M. Nasir, publik telah terbelah.

Sebagian dengan keras menolak klaim tersebut dan menganggapnya sebagai upaya mendiskreditkan (demonisasi) dan melemahkan Islam, memecah belah umat Islam, terbawa agenda musuh, hingga pengalihan isu. Di sebuah seminar tentang pemilu dan radikalisme bahkan seorang aktivis mahasiswa mencurigai penangkapan terduga pelaku teror sebagai konspirasi karena begitu cepatnya pemerintah melakukan penangkapan paskaperistiwa dan membandingkannya secara tak sepadan dengan kasus Novel Baswedan yang lambat dalam penanganan.

Dalam seminar yang sama seorang dosen birokrat kampus juga mengkritik keras penggunaan terma radikalisme, ekstrimisme, terorisme, serta menolak pemilahan secara akademis salafisme, islamisme, takfiri, jihadisme dengan berargumen—lagi-lagi—sebagai upaya memecah belah umat sembari menolak penisbatan salafisme dengan pengeboman. Ia meyakini bahwa umat Islam hanya satu: sebuah narasi yang dibangun sebagian kelompok untuk menihilkan perbedaan spektrum pemikiran dan gerakan sembari membangun dominasi namun di saat yang sama menolak islamisme dilekatkan dengan pengeboman atau aksi teror pendukung jihadisme. Paradoksal.

Jalan Buntu Definisi Radikalisme
Tak lama setelah BNPT merilis daftar tujuh kampus terpapar radikalisme, akademisi, dan birokrat kampus menyatakan protesnya. Aribowo, dosen Unair menyatakan bahwa radikalisme yang menjadi terorisme di kampus itu tak ada. Sementara Al Chaidar, dosen Universitas Malikussaleh, Aceh, menegaskan bahwa mahasiswa yang terpapar radikalisme kekerasan sangat sedikit jumlahnya (5/6). Berbeda dengan BNPT yang mengajukan angka paparan radikalisme 39% di 15 provinsi, ia menyebut hanya delapan mahasiswa aktif yang terlibat terorisme antara tahun 2002-2018. Diantara mereka ialah mahasiswa Unair pro-ISIS dan mahasiswa Universitas Hasanudin dan Muhamadiyah di Makassar yang direkrut kelompok Santoso.

Di beragam media sosial juga muncul perlawanan terselubung maupun terbuka terhadap narasi radikalisme BNPT ini melalui gurauan, cemoohan, atau sindiran; salah satunya dengan membenturkan radikal (keagamaan) dengan radikal bebas—istilah kimiawi yang tiba-tiba jadi istilah populer kekinian. Di kesempatan lain, seorang mahasiswa mengekspresikan resistensinya dengan tanpa sadar mengaburkan batas definisi: di kelas ia diminta berpikir radikal, namun oleh pemerintah dilarang radikal.

Dari respon dan resistensi di atas terdapat satu titik simpang: batasan radikalisme. Terma radikalisme, laiknya terorisme, mengidap bias kekuasaan dan kepentingan: ia bisa ditafsirkan sekehendak pihak yang menafsirkan berdasar kekuasaan dan kepentingannya. Tindakan kaum Paderi di Minangkabau dalam melawan Belanda bisa dimaknai sebagai tindakan radikal secara positif oleh bangsa Indonesia, namun bermakna negatif bagi Belanda. Sebaliknya, tindakan radikal gerakan Paderi melancarkan jihad pemurnian agama kepada kaum muslim penolak ajaran-ajaran mereka bisa dicap positif oleh Belanda atas nama politik belah bambu, namun bisa bermakna negatif bagi yang melihat melalui lensa perjuangan kemerdekaan dan kebangsaan. Pangeran Diponegoro merupakan radikal-teroris bagi Belanda, namun pahlawan-pejuang bagi kita. Tanpa batasan yang jernih dan berimbang, akan terjadi rudapaksa penakrifan.

Namun, terlalu larut dalam polemik pendefinisian juga tak menyelesaikan masalah dan bisa berujung pada pengingkaran (denial). Berasyik masyuk mempertengkarkan definisi terorisme membuat kita bisa abai pada terus jatuhnya korban terorisme. Memperolok definisi radikalisme tanpa upaya serius meneroka dan merumuskannya membuat kita hanya meletakkan terma radikalisme teronggok di jalan buntu, kuldesak (cul-de-sac), dan terpaku pada tindak tutur pelabelan yang menyisihkan.

Titik Lemah Definisi Radikalisme BNPT
Celakanya, dalam mendefinisikan radikalisme BNPT terjebak dalam bias kekuasaan sehingga meruyakkan kegaduhan. Definisi radikalisme BNPT bisa dirunut dari dua sumber, Humas BNPT, Irfan Idris dan laman Belmawa Dikti. Menurut Humas BNPT, empat ciri radikalisme yang digunakan sebagai dasar menutup situs-situs anti-NKRI ialah pertama, keinginan untuk melakukan perubahan dengan cepat menggunakan kekerasan atas nama agama. Kedua, mengkafirkan orang lain. Ketiga, mendukung, menyebarkan, dan mengajak bergabung dengan ISIS. Keempat, memaknai jihad secara terbatas.

Sementara dari laman Belmawa Dikti, BNPT mendefinisikan radikalisme sebagai, “Suatu sikap yang mendambakan perubahan total dan bersifat revolusioner dengan menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekerasan dan aksi-aksi yang ekstrim,” dan bercirikan empat hal: intoleran (tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain), fanatik (selalu merasa benar sendiri, menganggap orang lain salah), eksklusif (membedakan dengan umat Islam umumnya), dan revolusioner (cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan).

Titik lemah definisi di atas terletak pada asosiasinya ke Islam dan jihad, tidak membedakan antara pikiran, sikap, dan tindakan radikal, serta memasukkan penggunaan kekerasan dalam indikatornya. Menghubungkan radikalisme dan Islam tanpa kehati-hatian menggugah ingatan traumatis umat Islam saat Pemerintah Orba saat memanfaatkan Pancasila untuk menggebuk kelompok Islam yang melawan Orba diantaranya melalui Komando Jihad dan peristiwa Tanjung Priok tahun 1980-an.

Pemikiran dan sikap radikal, dalam iklim demokrasi, merupakan bagian dari hak sipil yang harus dihormati dan direspon dengan hati-hati selama tidak jatuh pada tindakan radikal. Apalagi jika yang dimaksud radikal ialah dengan merujuk pada kamus umum sebagai radix, atau yang terkait dengan akar, dasar, dan fundamental, termasuk berpikir radikal atau mengkritik rezim dengan radikal seperti di kampus yang bermakna positif. Persoalan terjadi saat memaknai radikalisme secara politik. Ia dapat mengalami penyempitan makna dan bias.

Dari beragam definisi, penggunaan kekerasan menjadi garis demarkasi yang membatasi antara radikalisme dan terorisme. Menurut Hasan (2017), radikalisme beranasir literalisme, intoleransi, anti-sistem, dan revolusioner. Ketika empat indikator ini ditambahkan dengan kekerasan ia menjadi ekstremisme, dan jika kekerasan itu ditujukan sebagai teror, ia telah bertransformasi menjadi terorisme.

Memutus Mata Rantai Kekerasan
Dengan memberi batas radikalisme dan ektrimisme-terorisme melalui adanya penggunaan kekerasan, akan bisa dihindari stigma bahwa kampus merupakan produsen pelaku kekerasan dan teror. Melalui ciri-ciri di atas kita bisa merumuskan strategi kontra-radikalisme di kampus yang dialogis-humanis. Jika ciri literalisme ialah penafsiran teks agama secara kaku, verbatim, dan letterlijk tanpa menggunakan perangkat keilmuan yang dibutuhkan, maka pendidikan agama yang mencerahkan dan bertumpukan pada olah daya kritis bisa membantu warga kampus untuk berperilaku inklusif dan tidak terjebak pada sikap kaku dan menyisihkan yang berbeda. Dari ciri intoleransi, kita bisa mengidentifikasi, mengenali, dan membangun program di kampus untuk mencegah pemikiran, sikap, dan perilaku mahasiswa dan warga kampus yang menolak untuk menerima, mengakui, serta mendukung hak orang lain untuk memiliki keyakinannya sendiri dengan praktik-praktiknya serta menjauhkan prasangka buruk (prejudice) terhadap mereka.

Sedangkan dari indikator anti sistem (penolakan atau oposisi pada sistem politik dan pemerintahan yang resmi, keinginan untuk mengganti atau menghancurkan sistem politik yang resmi) dan indikator revolusioner (keinginan atau gerakan untuk merubah setiap aspek masyarakat secara drastis), kita bisa merumuskan antidotnya lewat pendidikan nilai-nilai kebangsaan yang inovatif, tak dogmatis, serta dialogis-persuasif sesuai karakter mahasiswa generasi milenial dan Z. Tanpa upaya yang tekun, serius, dan menyeluruh, kita tak akan memutus mata rantai kekerasan dan malah melanggengkan kekerasan simbolik: ketika kita membiarkan penyisihan pada yang berbeda sebagai hal lumrah dan alamiah.

Categories: Radikalisme | Tags: , , , | Leave a comment

PENJAJA GEDHEK

Aku merindukan senyum tertulus itu
terindah,
menyerpih perih
menatah sepi nyenyat
dalam hati

senyum itu
tertulus, terindah
setelah senyum bunda
dan seorang hawa
mendedahkan siapa kita
dan betapa tidak adilnya
negara pada mereka

dia hisap kretek linting
dari klobot kering*
disamping dua gulungan gedek
yang seharian dipikulnya
berkeliling kota
berharap kemurahan semesta
menitipkan setitik
rembesan rejeki
padanya

aroma tembakau murah
mengepulkan penat
yang sedari pagi
membebani pundak rentanya
geliginya yang menguning
tak lagi genap
menggurat senyum
saat aku mendekat

senyum lugu
orang dusun
senyum pasrah
orangorang kalah
yang tak pernah mengerti
betapa mereka
menjadi paria
di negeri gemah ripah

duduk menepi
bertikar debu jalan
baju batik murah lusuh
kopyah buluk mangkak
sarung koyak
tersampir di pundak

aku tak mampu berkatakata
bahkan untuk sekedar menyapa
kuangsurkan sepuluh ribuan
“matur sembah nuwun, ‘nak”**
geletar suaranya
menggenangkan kehangatan
dalam hati
kumerutuk
kenapa dompetku hanya berisi
lima ribu dua
“dasar mahasiswa”
gumamku

“dalemipun pundi, Pak?”***
tanyaku sambil berjongkok
matanya redup,
kepasrahan menelaga disana
tetap tersenyum,
“dalem kulo ten Tumpang, ‘nak”****
kromo inggilnya terujar sempurna
terlambari takzim

aku tak merasa layak
mendapat kehormatan bahasa jawa halus
dari orang yang lebih tua
tapi memberi sedekah
membuat merasa kalah
tangan yang dibawah

menjura
aku undur diri
hatiku basah

Exeter, 20-21 Juli ’08
detikdetik peralihan hari

* Klobot: kulit jagung
** Terima kasih sedalam-dalamnya, ‘nak.
*** Rumah Bapak dimana?
*** Rumah saya di Tumpang,’nak.

(Untuk seorang bapak renta penjual gedek (anyaman bambu) keliling yang kutemui semasa kuliah. Semoga Tuhan selalu menjaga serta mengasihi panjenengan dan mempertemukan kita lagi suatu hari nanti)

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Selamat Datang di Universitas Brawijaya. Ini adalah posting pertamaku

Categories: Uncategorized | Leave a comment